Sorotan.id – Pemerintah Provinsi Sumatera Barat menjamin kasus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) sangat landai. Artinya seluruh hewan kurban yang dipantau dipeternakan resmi, termasuk sap terbebas dari PMK.
Hal ini memastikan bahwa pemotongan hewan kurban tahin ini lebih aman, baik dari sisi kesehatan maupun kepercataan masyarakat.
Pernyataan ini disampaikan oleh Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Sumbar, Sukarli yang didampingi Kabid Kesehatan Hewan dan Veteriner, M. Kamil.
“Tahun ini masyarakat bisa lebih tenang. Tidak ada kasus PMK yang ditemukan di Sumbar,” Kata Sukarli.
Kesimpulan ini didasari pengecekan secara menyeluruh dan teratur oleh DPKH sejak Februari 2025 hingga saat ini. Termasuk menyalurkan 2.000 dosis vaksin PMK ke berbagai daerah yang didistribusikan ke peternakan.
Upaya ini terbukti efektif dalam mengendalikan penyebaran penyakit yang sebelumnya sempat mengancam populasi ternak nasional.
Dengan membaiknya situasi kesehatan hewan, diperkirakan pada tahun 2025 ini jumlah hewan kurban akan meningkat. Jika tahun lalu tercatat sekitar 46.000 ekor hewan kurban (dengan rincian 27.000 sapi dan sisanya kerbau dan kambing), maka tahun ini diprediksi mencapai lebih dari 50.000 ekor. Yang diantaranya 40.000 -43.000 ekor sapi.
“Peningkatan ini didorong oleh makin banyaknya perantau yang pulang kampung dan berkurban di kampung halaman, serta pulihnya kondisi ekonomi masyarakat,” kata Sukarli.
Sementara permintaan meningkat, pasokan hewan kurban Sumbar masih bergantung pada luar daerah. Sekitar 60–65 persen sapi kurban didatangkan dari provinsi lain, seperti Lampung, Jawa, Bali, dan kini mulai dari Sumatera Utara.
Dengan kemampuan lokal baru memenuhi 30–35 persen kebutuhan sapi kurban, hal ini menunjukkan peluang besar untuk pengembangan peternakan lokal. “Potensi usaha sapi kurban sangat menjanjikan, terutama jika diintegrasikan dengan perkebunan sawit yang banyak tersebar di Sumbar,” imbuhnya.
Dengan status PMK yang terkendali dan distribusi vaksin yang terjaga, masyarakat Sumbar kini dapat melaksanakan kurban dengan lebih tenang, aman, dan sehat. Di sisi lain, kondisi ini juga menjadi peluang ekonomi baru bagi peternak lokal untuk meningkatkan produksi dan kualitas ternak mereka. (*)









