Sorotan.id – Menteri Sosial RI Saifullah Yusuf (Gus Ipul) sebut program Sekolah Rakyat di 63 titik rintisan akan mulai berjalan pada pertengahan Juli, sementara 37 titik berikutnya menyusul pada akhir Juli.
“Jadi Insya Allah awal Agustus target 100 Sekolah Rakyat sudah berjalan penuh,” ujarnya usai mengikuti Rapat Tingkat Menteri (RTM) yang dipimpin Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Abdul Muhaimin Iskandar di Jakarta dilansir dari website resmi Sekolah Rakyat Kemensos, Rabu, (9/8).
Ia melanjutkan, dari 100 titik Sekolah Rakyat sudah ada 9.700 siswa yang siap mengikuti pembelajaran angkatan pertama. Sebelum masuk asrama dan memulai kegiatan belajar mengajar, mereka akan menjalani pemeriksaan kesehatan.
“Kalau ada yang sakit, sesuai arahan Presiden, harus dibantu sampai sembuh. Setelah itu baru belajar,” terangnya.
Kemudian para siswa, guru, maupun tenaga pendidik akan menjalani masa orientasi. Gus Ipul menyebut masa orientasi akan berlangsung lebih lama karena masih berstatus sekolah rintisan.
Ia berharap Sekolah Rakyat akan jadi tonggak penting dalam memutus kemiskinan antargenerasi. “Mohon doa dan dukungan semua pihak supaya program ini berjalan lancar, hingga nanti dapat diresmikan langsung oleh Bapak Presiden,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Menko Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar menegaskan rapat ini menjadi langkah penting mengevaluasi program penanggulangan kemiskinan nasional, baik menuju target 0% kemiskinan ekstrem pada 2026 maupun 4,5% angka kemiskinan pada 2029.
“Salah satu langkah konkret kita memotong rantai kemiskinan adalah melalui pendidikan, makanya Sekolah Rakyat ini harus kita dorong bersama-sama agar berjalan cepat dan efektif,” katanya.
Ia juga menyebut pembangunan Sekolah Rakyat permanen akan dimulai tahun ini, ditargetkan tiap kabupaten atau kota nantinya memiliki minimal satu sekolah.
Ribuan Anak Miskin Ekstrem Tak Dapat Menempuh Pendidikan
Kepala BPS Amalia menjelaskan, berdasarkan data di DTSEN per 25 Juni 2025, terdapat sekitar 422 ribu anak usia sekolah dari keluarga miskin ekstrem (desil 1) yang tidak sekolah atau putus sekolah.
“Total anak usia 7-18 tahun di Indonesia yang belum sekolah atau tidak sekolah lagi sekitar 4,1 juta orang, atau sekitar 7%. Ini jadi basis penting mengapa Sekolah Rakyat sangat tepat sasaran,” ungkapnya.
Ia mengatakan, semakin tinggi pendidikan kepala keluarga, maka semakin tinggi juga tingkat kesejahteraan rumah tangga.
“Mayoritas kepala keluarga miskin ekstrem hanya tamat SD atau bahkan tidak lulus SD. Jadi intervensi pendidikan seperti ini adalah jalan paling masuk akal memutus siklus kemiskinan,” jelasnya.










