Sorotan.id – Sejak Presiden Amerika Serikat, Donald Trump memberlakukan tariff resiprokal atau tarif Trump sejak 2 April 2025 silam, hubungan Amerika Serikat dengan China memburuk. Terlebih dari sector perdagangan. Alhasil, China memberlakukan tariff yang tinggi juga kepada seluruh produk Amerika Serikat.
Seiring waktu, tariff kedua Negara semakin tinggi dan akhirnya terjadi perang dagang antar Amerika Serikat dan China. Namun Amerika mulai kewalahan dengan perang dagang ini. Terlebih China memberlakukan tariff murah kepada Negara lain untuk menghambat laju Eksport Amerika.
Akhirnya Amerika melunak dan merayu China untuk memperbaiki hubungan dagang kedua Negara.
Amerika Serikat dan China akhirnya mencapai kesepakatan “Genjatan Perang Dagang” pada Senin (13/5/2025). Kedua Negara sekapat memangkas tariff impor sementara selama 90 hari. Langkah ini membawa angin segar untuk menstabilkan kembali pasar global.
Dalam pengumumannya, AS menurunkan tariff tambahan terhadap produk asal China dari 145 persen menjadi 30 persen.
Kemudian China juga memangkas tariff atas barang-barang asal Amerika Serikat dari 125 persen menjadi 10 persen.
Genjatan perang dagang ini mendapat respon positif. Nilai tukar dolar AS menguat dan bursa saham di berbagai Negara menghijau.
“Kedua Negara berhasil mewakili kepentingan nasional masing-masing dengan sangat baik,” ujar Menteri Keuangan AS, Scott Bessent usai pertemuan dengan delegasi China di Jenewa, Swiss, Senin (12/5/2025) yang dikutip dari Reuters.
Pernyataan ini disampaikan bersama perwakilan Dagang AS, Jamieson Greer yang menegaskan bahwa kedua pihak kini sepakay untuk tidak melakukan pemisahan ekonomi total atau decoupling.
“Tarif yang sangat tinggi itu, pada dasarnya menyerupai embargo. Tidak ada yang menginginkan itu. Kita menginginkan perdagangan,” kata Greer.
Selama ini, perang dagang antara AS dan China telah menyebabkan terhentinya nilai perdagangan sebesar US$600 miliar atau sekitar Rp9.600 triliun dengan asumsi kurs Rp16 ribu per dolar AS.
Rantai pasok global terganggu, pemutusan hubungan kerja terjadi di berbagai sektor, dan kekhawatiran akan stagflasi sempat mencuat.
Pertemuan di Jenewa merupakan dialog langsung pertama antara pejabat ekonomi senior kedua negara, sejak Trump kembali menjabat awal tahun ini.
Meski kesepakatan ini belum mencakup seluruh sektor, AS tetap akan melakukan penyesuaian di beberapa bidang yang dinilai strategis.
“Penyesuaian ini akan difokuskan pada sektor-sektor penting seperti obat-obatan, semikonduktor, dan baja yang kami anggap krusial dari sisi rantai pasok,” ujar Bessent. (*)









