Sorotan.id – Pemerintah Kabupaten Kepulauan Mentawai memperkuat sistem mitigasi bencana, khususnya di wilayah Pulau Siberut yang rawan terhadap potensi gempa besar dan tsunami akibat aktivitas megathrust.
Plt Kepala Pelaksana BPBD Mentawai, Lahmuddin Siregar, mengatakan, pihaknya telah melakukan pemetaan pada 22 titik evakuasi yang terdiri dari 12 Tempat Evakuasi Sementara (TES) dan 10 Tempat Evakuasi Akhir (TEA) Pulau Siberut.
Ia mengatakan, titik-titik evakuasi tersebut tersebar di lima kecamatan prioritas yang memiliki risiko bencana tinggi.
“Rinciannya, untuk TES terdapat tiga titik di Siberut Barat, empat titik di Siberut Utara, dua titik di Siberut Tengah, dua titik di Siberut Selatan, dan satu titik di Siberut Barat Daya. Sementara itu, TEA masing-masing tersedia tiga titik di Siberut Barat, empat titik di Siberut Utara, dan masing-masing satu titik di Siberut Tengah, Siberut Selatan, serta Siberut Barat Daya,” katanya dilansir dari Antara, Rabu, (9/7).
Sementara itu, untuk wilayah padat penduduk seperti Muara Siberut, pihaknya telah menetapkan tiga jalur utama evakuasi, yakni melalui Jalan Pastoran, Jalan Maileppet, dan jalur menuju Rumah Sakit. Ketiga jalur ini dipilih karena dinilai strategis, mudah diakses, dan mampu menampung mobilitas warga dalam jumlah besar.
Ia melanjutkan, saat ini PBD Mentawai juga tengah menyusun rencana pembangunan TEA baru di dua lokasi prioritas, yakni di Muara Sikabaluan dan Bosua, yang saat ini masih menunggu pengalokasian anggaran.
“Kami berupaya maksimal, tapi anggaran memang menjadi tantangan utama. Meski demikian, perencanaan terus kami susun agar saat ada dana, pembangunan bisa langsung dimulai,” tuturya.
Ia mengatakan, Pulau Siberut merupakan daerah terpencil yang didominasi perbukitan sehingga menjadi tantangan dalam pembangunan jalur evakuasi.
Kendati demikian, pihaknya akan terus berkomitmen untuk mendorong budaya siaga bencana. Ia menilai mitigasi bukan hanya soal pembangunan fisik, akan tetapi juga kejelasan jalur evakuasi dan edukasi ke masyarakat.
“Melalui program edukasi, pelatihan tanggap darurat, dan simulasi evakuasi berkala, masyarakat terus dilibatkan secara aktif. Kami berharap semua elemen masyarakat semakin sadar akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana megathrust di masa mendatang,” tutupnya.











