Sorotan.id – Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) meminta masyarakat di sekitar Gunung Marapi, Sumatera Barat untuk tetap waspada dengan erupsi lanjutan. Hal ini dikarenakan ada tekanan (stress) pada tubuh gunung yang Kembali meningkat dan kondisi medium di dekat permukaan gunung yang tidak stabil.
“Erupsi ini merupakan bagian dari dinamika pasokan fluida atau magma dari kedalaman tubuh Gunung Marapi,” ujar Kepala Badan Geologi Muhammad Wafid dalam keterangannya, Jumat, 4 April 2025.
Menurut Wafid, tanda-tanda peningkatan aktivitas vulkanik sudah terdeteksi sejak 27 Maret dengan catatan empat kali gempa vulkanik dalam. Kemudian pada 1 April tercatat 15 kali gempa vulkanik dangkal.
Letusan Marapi umumnya bersifat eksplosif dan berasal dari Kawah Verbeek. Selain abu dan lapili, letusan juga bisa disertai lontaran material pijar dan bom vulkanik. Fenomena ini berkaitan dengan proses buka-tutup ventilasi conduit akibat pengerasan lava di dasar kawah. Jika tekanan gas magmatik terakumulasi akibat ventilasi yang tertutup, maka letusan akan terjadi saat tekanan tersebut mencapai ambang kritis.
Pada tanggal 3 April 2025 pukul 07:12 WIB terjadi erupsi yang terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 30,4 mm dan durasi 1 menit 9 detik. Kolom abu/asap erupsi teramati dari Pos Pengamatan dengan tinggi 1500 meter di atas puncak.
Saat terjadi pengerasan lava karena proses pendinginan (yang dapat dipercepat oleh masuknya air meteorik) maka ventilasi konduit akan menutup dan gas magmatik tidak dapat lepas ke atmosfir sehingga terjadi akumulasi tekanan di bagian dangkal dekat permukaan. Lalu saat batas kejenuhan tekanan terlewati mengakibatkan terjadinya erupsi (pelepasan energi) dan ventilasi konduit membuka kembali.
“Proses seperti itu berulang dan selama dinamika pasokan fluida/magma dari kedalaman masih berlangsung maka erupsi dapat terjadi kembali,” sebut Wafid.
Oleh sebab itu, Wafid merekomendasikan tak ada aktivitas radius 3 kilometer dari kawah.
Gunung api Marapi termasuk sering mengalami erupsi. Sejak tahun 1807 erupsi memiliki masa istirahat terpendek kurang dari 1 tahun dan terlama 17 tahun (ratarata istirahat 3,5 tahun), dan sejak tahun 1987 sampai sekarang erupsi bersifat eksplosif dari Kawah Verbeek.
Aktivitas erupsi biasanya disertai suara gemuruh atau dentuman dengan produk erupsi dapat berupa abu, lapili, dan terkadang juga diikuti oleh lontaran material pijar dan bom vulkanik. (*)









