Sorotan.id – Jam Gadang yang berdiri megah di pusat Kota Bukittinggi, Sumatera Barat, bukan hanya sekadar penunjuk waktu atau ikon kota, tapi juga saksi sejarah yang telah menyaksikan berbagai peristiwa penting sejak zaman penjajahan.
Jam Gadang adalah sebuah menara jam setinggi 26 meter dengan didominasi warna putih, yang kini menjadi daya tarik utama bagi para wisatawan lokal maupun mancanegara yang berkunjung ke Bukittinggi.
Selain sebagai tempat berfoto, area sekitar Jam Gadang juga kerap menjadi pusat kegiatan budaya, hiburan, hingga festival tahunan.
Namun, tahukah Anda. Di balik kemegahannya, Jam Gadang menyimpan sejumlah fakta menarik yang jarang diketahui banyak orang. Berikut sorotan.id rangkum untuk Anda.
Hampir Berusia 100 Tahun
Jam Gadang dibangun masa pemerintahan Hindia Belanda pada tahun 1926 silam, artinya pada 2025 ini jam Jam Gadang berusia 99 tahun atau 100 pada 2026 mendatang.
Arsiteknya Orang Minangkabau
Meskipun pembangunan Jam Gadang dibangun pada masa pemerintahan Hindia Belanda, tetapi arsiteknya berasal dari Orang Minangkabau, yakni Yazid Sutan Maruhun dan Rasid Sutan Gigi Ameh.
Angka Empat Romawi Ditulis IIII
Sekilas terlihat tidak ada yang berbeda, namun apabila Anda jeli melihatnya, angka empat romawi pada jam Gadang ditulis dengan IIII.
Jam Serta Mesin Buatan Jerman
Meskipun pembangunan dibangun pada masa Belanda, namun jam beserta mesinya buatan Jerman. Hal itu dapat dilihat pada lonceng jam yang tertera pabrik pembuat jam Vortmann Recklinghausen. Vortmann adalah nama belakang pembuat jam yakni Benhard Vortmann. Sementara itu Recklinghausen adalah nama kota di Jerman yang merupakan tempat diproduksinya mesin jam.
Tiga Kali Berganti Atap
Sejak berdiri hingga kini, atap Jam Gadang sudah diganti sebanyak tiga kali. Pada masa Kolonial Belanda atapnya berbentuk kubah kerucut yang dihiasi patung ayam jantan pada bagian puncaknya.
Sementara itu, pada masa penjajahan Jepang, atapnya diganti berupa bagunan segi empat dengan model atap tradisional Jepang.
Selanjutnya, memasuki masa kemerdekaan, atap Jam Gadang kembali berubah, dan diganti dengan bagonjong atau atap rumah adat Minangkabau. Hingga kini, bentuk itu pun masih dipertahankan.
Tak Sembarang Orang Bisa Naik ke Puncak
Meski jadi salah satu destinasi wisata paling terkenal di Sumatera Barat, ternyata tak sembarang orang bisa naik ke puncaknya. Bagian atas Jam Gadang hanya bisa diakses oleh petugas khusus yang ditugaskan untuk merawat dan memeriksa mesin jam, atau orang-orang tertentu yang mendapatkan izin khusus dari pemerintah kota. Hal itu bertujuan untuk menjaga menjaga keaslian dan keamanan bangunan bersejarah itu.
Apabila Anda salah satu orang yang berkesempatan untuk menuju puncak, Anda dapat melihat mesin Jam Gadang yang berusia ratusan tahun. Kemudian dari puncak ini pemandangan Kota Bukittinggi juga terlihat cantik.











