Sorotan.id – Sebanyak 10 dari 12 kabupaten / kota di provinsi Riau memberlakukan siaga kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Langkah ini dilakukan untuk antisipasi kemarau panjang dan rawan kebakaran.
Hanya kota Pekanbaru dan Kabupaten Rokan Hilir yang belum menetapkan status siaga Karhutla ini.
Penetapan status siaga Karhutla ini setelah BMKG mengeluarkan prediksi kemarau panjang sejak awal Mei 2025 mendatang. Disamping itu, juga ditemukan titik panas (hotspot) di sejumlah wilayah.
“Penetapan status siaga Karhutla ini untuk mempermudah koordinasi dan penanganan lebih cepat apabila terjadi Karhutla,” kata Kepala Pelaksana BPBD Damkar Riau, M. Edy Afrizal, Selasa (29/4/2025).
Sementara itu Gubernur Riau, Abdul Wahid juga memintak peran aktif masyarakat untuk mencegah terjadinya karhutla. Kesadaran kolektif menjadi kunci utama agar bencana karhutla bisa dihindari.
“Mari kita sama menjaga. Jangan sampai api menyala, baru bergerak,” kata Abdul Wahid.
Adapun 10 Daerah yang menetapkan status siaga Karhutla yakni Kota Dumai, serta Kabupaten Pelalawan, Siak, Indragiri Hulu, Indragiri Hilir, Kuantan Singingi, Kampar, Kepulauan Meranti, Bengkalis dan Rokan Hulu.
Sumbar Ketiban Asap?
Dilihat dari historis karhutla yang pernah terjadi di Riau, Sumatera Barat selalu mendapatkan asap kiriman. Kualitas udara pun juga turun.
Di tahun 2015, terjadi bencana karhutla ekstrem hampir di seluruh pulau Sumatera. Namun saat itu, karhutla yang terparah berada di provinsi Riau dan Jambi. Bahkan kualitas udara pada level membahayakan kesehatan.
Kemudian karhutla ekstrem kembali terjadi di tahun 2019. Terbanyak terjadi di Provinsi Riau dan Jambi. Sumatera Barat pun mendapat kiriman asap yang membuat jarak pandang hanya 50 meter.
Dampak kabut asap yang datang dari wilayah tetangga tersebut, pemerintah Sumbar sempat meliburkan sekolah untuk mengantisipasi naiknya penyakit ISPA. Bahkan mengganggu aktivitas penerbangan. (*)









