Sorotan.id – Tepat pukul 17.30 WIB, Senin (7/4/2025), acara tradisi masyarakat Kenagarian Gunung Malintang, Kabupaten Limapuluh Kota resmi ditutup. Acara yang berlangsung selama 5 hari ini sejak 3-7 April 2025 selalu menyita perhatian. Masyarakat dari dalam maupun luar provinsi Sumatera Barat turut meramaikan acara ini.
Alek Bakajang selalu diselenggarakan pada hari ke-4 lebaran atau bertepatan tanggal 4 Syawal. Setiap jorong (dusun-red) berkontribusi dengan menyiapkan Kajang (kapal-red) yang akan ditampilkan di aliran Sungai di Nagari Gunung Malintang.
Alek Bakajang merupakan warisan budaya yang dijalankan oleh lintas generasi. Tradisi ini mampu menarik wisatawan.
Pada zaman dahulu, Alek Bakajang hanya sebagai hiburan setelah musim panen. Seiring berjalannya waktu, tradisi ini berkembang menjadi budaya yang memiliki nilai-nilai estetika dan seni. Saat ini Kajang sudah dimodernisasi oleh masyarakat berupa kapal pesiar.
Melihat kayanya potensi wisata dan budaya dalam Alek Bakajang, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Limapuluh Kota, M. Fadhlil Abrar mengharapkan tradisi ini bisa mendunia. Jika diperjuangkan secara serius, Alek Bakajang bisa tampil atau berkontribusi dalam festival air yang selalu digelar oleh beberapa negara di Eropa, salah satunya seperti Asta River Cruise Expo.
“Namun hal ini perlu kontribusi dari Pemerintah. Baik pemerintah daerah maupun pusat. Bagaimana membawa Alek Bakajang bisa meramaikan festival air atau Sungai di kancah internasional sebagai promosi culture dan seni Indonesia,” kata Fadhil.
Impian seperti ini bisa terwujud asalkan pemerintah serius. Apalagi Alek Bakajang juga sudah diakui secara nasional dengan juara 1 kategori Atraksi Budaya Terbaik Nasional Anugerah Pariwisata Indonesia (API) tahun 2021 silam.
“Perlu keseriusan dari pemerintah untuk ini,” ucapnya.
Setiap Alek Bakajang digelar, ribuan masyarakat selalu memenuhi aliran Sungai di Gunung Malintang. Para perantau juga kerap mempromosikan Alek Bakajang di daerah perantauan. Alhasil masyarakat luar dari Sumbar juga turut hadir menyaksikan acara ini.
“Artinya perhatian dan antusias masyarakat terhadap Alek Bakajang sangat tinggi. Para perantau juga mendukung tradisi local ini. Jadi saya harapkan Pemerintah bisa menduniakan Alek Bakajang,” kata Fadhlil.
Bagi Fadhil, dampak positif Alek Bakajang sangat banyak. Baik dari sisi pariwisata, budaya, seni, ekonomi bahkan mengharumkan nama Indonesia. (*)









