Sorotan.id – Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Wilayah Jambi terus mengebut pembangunan jembatan darurat (Bailey) penghubung lalu lintas Sumatera Barat dengan Jambi. Perkembangan terbaru, jembatan hampir rampung. Rangka jembatan sudah terpasang utuh di kedua sisi.
Saat ini, pekerjaan sudah di tahap akhir yakni pembuatan oprit jembaran dan pemasangan lantai baja.
“Sedang dilakukan pembuatan oprit dan pemasangan lantai baja. Sekarang ini sedang dalam tahap finishing,” kata Kepala BPJN Jambi, Ibnu Kurniawan melalui Kepala Satker PJN II, Diaz Shodiq, Senin (10/3/2025).
Apabila pengerjaan tahap akhir telah selesai, pihak BPJN Jambi akan langsung berkoordinasi dengan Dirlantas Polda Jambi untuk dilakukan uji coba.
“Jika sudah selesai semuanya, akan dilakukan koordinasi dengan Dirlantas Polda Jambi untuk dilakukan uji coba dan pembukaan jalan,” ucapnya.
Pemasangan jembatan darurat ini begitu diharapkan cepat selesai dan bisa dilalui oleh pengguna jalan lintas Sumatera. Mengingat jalan yang putus di KM 58 Desa Sirih Sekapur, Kabupaten Bungo ini menjadi jalan utama penghubung antara Provinsi Sumatera Barat dan Jambi.
Solusi sementara, pihak kepolisian membuka jalur alternatif bagi pengendara. Dari arah Jambi dan Tebo, pengendara dapat melewati Rimbo Bujang – Simpang Lopon – Tujuh Koto – Koto Baru (Dharmasraya).
Dari arah Merangin: melewati Kota Bungo – Simpang Sawmil (belok kanan) – Rimbo Bujang – Simpang Lopon – Tujuh Koto – Koto Baru (Dharmasraya).
Alternatif lainnya, lewat Jujuhan-Simpang Rantau Ikil (belok kanan) – Desa Pulau Batu Jujuhan Ilir – Koto Baru (Dharmasraya).
Dengan hampir rampungnya Jembatan Bailey, diharapkan arus lalu lintas segera kembali normal. Apalagi jalur ini sangat vital untuk arus mudik lebaran 2025 nanti.
Jembatan Bailey yang dibangun memiliki panjang 30 meter dan lebar 4,5 meter. Namun, ada pembatasan beban kendaraan atau mobil guna menjaga keamanan dan daya tahan jembatan. Total berat kendaraan dan muatan yang diperbolehkan lewat hanya maksimal 20 ton.
Jika melebihi batas tersebut, pengendara harus mengurangi beban atau lewat jalur alternatif. (*)









