Sorotan.id — Pembelajaran keterampilan di Sekolah Luar Biasa (SLB) Luak Nan Bungsu, Kota Payakumbuh, membuahkan karya nyata yang bernilai ekonomis. Tidak hanya mempelajari teori dan praktik dasar, para siswa difabel di sekolah ini dilatih secara langsung mengenal proses produksi hingga kewirausahaan lewat dua produk unggulan: Lunaba Kombucha dan Cluna Dish.
SLB yang beralamat di Jalan Singgalang, Kelurahan Balai Jaring, Kecamatan Payakumbuh Barat ini berada di bawah naungan Yayasan Kapten Tantawi Aie Tabit. Dipimpin oleh Kepala Sekolah Idham Lazwardi, S.Pd., Gr., sekolah tersebut saat ini membina 56 siswa dengan didampingi 14 guru dan 2 tenaga kependidikan.
Inovasi Berawal dari Pelatihan Guru
Lahirnya produk Lunaba Kombucha berawal dari pelatihan produksi kombucha yang diikuti oleh guru keterampilan sekolah, Yetriliza. Ilmu yang didapat dari pelatihan tersebut lantas ditularkan dan dikembangkan di lingkungan sekolah sebagai produk unggulan.
”Awalnya dari pelatihan yang diikuti oleh guru keterampilan kami, Ibu Yetriliza. Setelah pelatihan, beliau mendapat tugas mengembangkan ilmu tersebut. Dari situ sekolah melihat potensi kombucha untuk dijadikan produk karya sekolah,” ungkap pihak SLB Luak Nan Bungsu.
Pengembangan dilakukan secara bertahap melalui kegiatan praktik. Tak hanya guru, para siswa dilibatkan langsung dalam proses fermentasi minuman berbasis kultur SCOBY tersebut sesuai dengan tingkat kemampuan dan karakteristik masing-masing.
Guna menjaga kualitas dan keamanan, pihak sekolah juga tengah memproses pengajuan sertifikasi halal serta memastikan standar legalitas dan pelabelan produk terpenuhi dengan baik.
Cluna Dish: Sabun Cuci Piring Karya Keterampilan Tata Graha
Selain minuman fermentasi, SLB Luak Nan Bungsu meluncurkan Cluna Dish, produk sabun cuci piring yang dikembangkan melalui program keterampilan tata graha pada tahun ajaran ini.
Menggunakan formulasi khusus berbasis surfaktan, air, pewarna, dan natrium klorida, produk ini menjadi simbol kreativitas tanpa batas dari para siswa. Pihak sekolah kini tengah melihat respons pasar sebelum melangkah ke pengembangan produk kebersihan rumah tangga lainnya.
Fokus pada Pembentukan Sikap Kerja dan Kemandirian
Bagi SLB Luak Nan Bungsu, nilai utama dari program ini bukan sekadar mengejar volume penjualan, melainkan membangun proses pembelajaran kerja yang nyata dan inklusif. Guru berperan sebagai pendamping dan fasilitator, sementara siswa belajar mengikuti instruksi, menjaga tanggung jawab, serta memahami nilai sebuah karya.
Pihak sekolah berharap program ini mampu menciptakan siklus berkelanjutan: siswa belajar, menghasilkan karya bernilai ekonomi, dan hasilnya digunakan kembali untuk mendukung kegiatan keterampilan sekolah.
”Yang paling penting, kami berharap kegiatan ini bisa menjadi bekal bagi siswa setelah lulus. Jadi mereka tidak hanya memiliki ijazah, tetapi juga mempunyai keterampilan yang bisa digunakan untuk bekerja, berwirausaha, atau menjadi lebih mandiri dalam kehidupannya,” pungkas pihak sekolah.










