Sorotan.id – Di tangan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Reguler II Universitas Andalas, limbah tongkol jagung yang biasanya hanya dibakar atau dibuang kini disulap menjadi ladang jamur janggel yang menjanjikan.
Program ini digagas oleh Al Hamid Putra, Amelia Ramadhani Adwina, Rashid Muarif Irsyad, dan Siska Laila Desri, setelah menerima permintaan langsung dari Penjabat (PJ) Wali Nagari Persiapan Lubuk Gadang Tenggara, Sahrizal.
Jagung banyak ditanam oleh masyarakat setempat, setiap panen tumpukan tongkol bekas menggunung di halaman rumah dan pinggir ladang. Kebanyakan berakhir dibakar, menghasilkan asap pekat yang mengganggu kesehatan dan mencemari udara.
Melihat peluang dari tumpukan “limbah emas” ini, tim KKN bersama pemerintah nagari pun bersepakat mengubahnya menjadi media tanam jamur bernilai jual.
Kegiatan sosialisasi dan pelatihan dilaksanakan di Gedung SD Lokal Jauh, Jorong Sungai Sanda, Nagari Lubuk Gadang Tenggara, pada Selasa, 12 Agustus 2025. Acara dihadiri oleh Wali Nagari, Babinsa, dua Wali Jorong, warga, dan mahasiswa KKN.
“Kami mengapresiasi langkah mahasiswa KKN Unand yang cepat merespons kebutuhan nagari. Inovasi ini bukan hanya mengurangi pencemaran, tetapi juga membuka peluang usaha baru bagi warga,” kata Sahrizal.
Metode yang digunakan adalah “broadcasting + fermentasi”, sebuah teknik sederhana tapi efektif untuk memaksimalkan nutrisi pada media tanam.
Proses dimulai dengan memilih lokasi teduh, lalu menyusun tongkol jagung setebal ±15 cm di atas papan berlapis karung goni. Bahan pengayaan dibuat dari 2 kg bekatul, 1 kg urea, dan 250 gram ragi yang sudah diaktifkan air hangat.
Campuran ini kemudian disebar merata di atas tongkol (broadcasting) dalam dua tahap, ditutup goni dan terpal, lalu difermentasi selama 2–5 hari.
Fermentasi menjadi tahap penting—dari sinilah aroma manis khas ragi muncul, tanda bahwa media siap menerima benih jamur. Setelah inokulasi benih, media diinkubasi 10–18 hari hingga tertutup miselium putih, kemudian dipicu untuk “fruiting” dengan memberi sirkulasi udara dan kelembapan terjaga. Panen pertama biasanya terjadi 14–21 hari setelah inokulasi, disusul 2–3 kali panen lanjutan (flush).
Bagi warga, proses ini tak hanya mudah diikuti, tetapi juga murah. Bahan utamanya tersedia di sekitar rumah, sementara peralatan seperti terpal, papan, dan goni dapat dipakai berulang kali.
Hasil uji coba di lapangan menunjukkan 10 kilogram tongkol jagung bisa menghasilkan sekitar 3 kilogram jamur segar—nilai ekonomis yang cukup tinggi untuk skala rumah tangga.
DPL KKN Nagari Persiapan Lubuk Gadang Tenggara, Yayuk Lestari, mengatakan metode ini bisa menjadi pintu masuk untuk usaha mikro berbasis rumah.
“Selain meningkatkan pendapatan, warga juga mendapat keterampilan baru yang ramah lingkungan. Kedepannya bisa dikembangkan menjadi usaha kelompok yang lebih besar,” ujarnya.
Selain pelatihan teknis, tim KKN juga menekankan aspek pemasaran dan diversifikasi produk. Jamur yang dipanen dapat dijual segar ke pasar lokal atau diolah menjadi keripik, nugget, hingga abon jamur. Program ini diharapkan menjadi model pemberdayaan ekonomi dengan mengolah limbah menjadi produk bernilai, warga tak hanya menambah penghasilan, tapi juga ikut menjaga lingkungan.











